Langkah–langkah yang diperlukan dalam siklus pengembangan suatu
sistem informasi untuk membangun dan mengimplementasikan SI bisnis
diperusahaan dengan digunakan pengembangan aplikasi dan sistem
e-business yang dapat memenuhi kebutuhan bisnis perusahaan, karyawan dan
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholder)
contoh pada kasus perusahaan Blue Cross-Blue Shield di Minnesota harus
menawarkan sistem web swalayan untuk karyawan klien dari beberapa
perusahaan besar salah satu tantangannya dalam proses pengembangan
sistem baru yaitu mendesain ulang kotak dialog drop down yang
membingungkan beberapa pemakai. Begitupula pada kasus Citi street
mempercayakan pada software pengembangan peraturan yang bisa digunakan
oleh analis bisnis untuk mempercepat perubahan peraturan bisnis dalam
software untuk web swalayan dan sistem rencana keuangan lainnya yang
sering diperlukan karena adanya perubahan kebijakan klien baru,
peraturan pemerintah atau preferensi pelanggan.
Pada awalnya adalah berusaha untuk mencari tau mengapa perlu adanya pengembangan sistem yaitu dengan mengetahui indikatornya; adanya keluhan pelanggan, pengiriman barang yang sering tertunda, pembayaran gaji yang terlambat, laporan yang tidak tepat waktu, Isi laporan yang sering salah, tanggung jawab yang tidak jelas, waktu kerja yang berlebihan, ketidakberesan kas, produktivitas tenaga kerja yang rendah, banyaknya pekerja yang menganggur, kegiatan yang tumpang tindih, tanggapan yang lambat terhadap pelanggan, kehilangan kesempatan kompetisi pasar.
Dengan pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah menggunakan orientasi sistem untuk merumuskan masalah dan peluang dan mengembangkan solusi. Menganilis dahulu masalah dan menformulasikan solusi selain itu dengan melibatkan aktivitas seperti:
1. Kenali dan rumuskan masalah atau peluang dengan menggunakan pemikiran sistem
2. Kembangkan dan evaluasi alternatif solusi sistem
3. Pilih solusi sistem yang memenuhi persyaratan
4. Desain solusi sistem yang dipilih
5. Implementasikan dan evaluasi kesuksesan sistem yang telah didesain
Menggunakan pendekatan sistem untuk mengembangkan solusi sistem informsi dapat dipandang sebagai proses multilangkah yangdisebut siklus pengembangan sistem informasi yang mencakup langkah: investigasi, analisis, desain, implementasi, dan pemeliharaan.
Dimulai dengan mengetahui permasalahan yang terjadi yang dapat berupa: ketidakberesan sistem yang lama, pertumbuhan organisasi, membutuhkan kecepatan dalam informasi atau efisiensi waktu, ataupun karena adanya instruksi dari pimpinan ataupun peraturan pemerintah. Setelah diketahui permasalahannya maka langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pengembangan sistem yaitu sistem yang dikembangkan untuk manajemen, pengembangan sistem sebagai investasi modal yang besar, sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik, tahapan kerja dan tugas-tugas yang baru dilakukan dalam proses pengembangan sistem, proses pengembangan sistem tidak harus urut, dokumentasi harus ada untuk pedoman pengembangan sistem.
Apabila dalam operasi sistem yang sudah dikembangkan masih timbul permasalahan maka perlu dikembangkan kembali suatu sistem untuk mengatasinya. Siklus ini disebut dengan Siklus Hidup suatu Sistem. Siklus Hidup Pengembangan Sistem dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh profesional dan pemakai sistem informasi untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem informasi. Siklus hidup pengembangan sistem informasi saat ini terbagi atas enam fase, yaitu :
1. Fase perencanaan sistem. Dalam fase ini dibentuk struktur kerja strategis yang luas, pandangan sistem informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi, proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan, sumber daya baru direncanakan untuk, dan dana disediakan untuk mendukung pengembangan sistem.
2. Fase analisis sistem. Dalam fase ini dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal balik yang terkait dalam pengembangan sistem, definisi masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala sistem, ditambah identifikasi biaya, keuntungan. Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan kebutuhan pemakai. Pada akhir fase ini, laporan analisis sistem disiapkan, bila laporan ini disetujui, tim proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara umum. Namun apabila tidak disetujui tim proyek sistem harus menjalankan analisis tambahan sampai semua setuju
3. Fase perancangan sistem secara umum/konseptual. Dalam fase ini dibentuk alternatif perancangan konseptual untuk pandangan pemakai. Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai. Alternatif perancangan konseptual memungkinkan manajer dan pemakai untuk memilih rancangan terbaik yang cocok untuk kebutuhan mereka. Pada fase ini analis sistem analis sistem mulai merancang proses dengan mengidentifikasikan laporan-laporan dan output yang akan dihasilkan oleh sistem yang diusulkan. Data masing-masing laporan ditentukan. Biasanya, perancang sistem membuat sketsa form atau tampilan yang mereka harapkan bila sistem telah selesai dibentuk. Perancangan sistem berarti untuk menerangkan secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang. Perancangan sistem ini juga menerangkan data yang akan dimasukkan, dihitung atau disimpan.
4. Fase evaluasi dan seleksi sistem. Akhir fase perancangan sistem menyediakan point utama untuk keputusan investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek sistem dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi sistem. Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase perancangan sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua altenatif akan dibuang. Biasanya, beberapa alternatif harus terbukti dapat dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi dipilih untuk pekerjaan akhir. Bila sudah terpilih alternatifnya maka akan dibuatkan rekomendasi untuk sistem.
5. Fase perancangan sistem secara detail/fungsional. Pada fase ini menyediakan spesifikasi untuk perancangan sesuai konseptual. Pada fase ini semua semua komponen dirancang dan dijelaskan secara detail. Perencanaan output (layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu dan laporan-laporan yang dicetak. Semua output direview dan disetujui oleh pemakai dan didokumentasikan. Pada akhir fase ini laporan rancangan sistem secara detail dihasilkan.
6. Fase implementasi sistem dan pemeliharaan sistem. Pada fase ini sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi. Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru. Laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan penjadwalan proyek dan teknik manajemen.
Terdapat beberapa pengembangan sistem yaitu pendekatan Klasik, Pendekatan Terstruktur, Pendekatan Dari Bawah Ke Atas, Pendekatan Dari Atas Ke Bawah.
1. Pendekatan Klasik (classical approach) disebut juga dengan Pendekatan Tradisional (traditional approach) atau Pendekatan Konvensional (conventional approach). Metodologi Pendekatan Klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan pada System Life Cycle. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan akan berhasil bila mengikuti tahapan pada System Life Cycle. Permasalahan-permasalahan yang dapat timbul pada Pendekatan Klasik adalah sebagai berikut, Pengembangan perangkat lunak akan menjadi sulit. Pendekatan klasik kurang memberikan alat-alat dan teknik-teknik di dalam mengembangkan sistem dan sebagai akibatnya proses pengembangan perangkat lunak menjadi tidak terarah dan sulit untuk dikerjakan oleh pemrogram. Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table). diagram IPO, bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut. Biaya perawatan atau pemeliharaan sistem akan menjadi mahal Mahalnya biaya perawatan pada pendekatan sistem klasik disebabkan karena dokumentasi sistem yang dikembangkan kurang lengkap dan kurang terstruktur. Dokumentasi ini merupakan hasil dari alat-alat dan teknik -teknik yang digunakan. Karena pendekatan klasik kurang didukung oleh alat-alat dan teknik-teknik, maka dokumentasi menjadi tidak lengkap dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang jelas, sehingga pada waktu pemeliharaan sistem menjadi kesulitan. Kemungkinan kesalahan sistem besar. Pendekatan klasik tidak menyediakan kepada analis sistem cara untuk melakukan pengetesan sistem, sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan sistem akan menjadi lebih besar. Keberhasilan sistem kurang terjamin. Penekanan dari pendekatan klasik adalah kerja dari personil-personil pengembang sistem, bukan pada pemakai sistem, padahal sekarang sudah disadari bahwa dukungan dan pemahaman dari pemakai sistem terhadap sistem yang sedang dikembangkan merupakan hal yang vital untuk keberhasilan proyek pengembangan sistem pada akhirnya. Mulai awal tahun 1970 muncul suatu pendekatan baru disebut dengan Pendekatan Terstruktur. Pendekatan ini pada dasarnya mencoba menyediakan kepada analis sistem dengan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide dari system life cycle.
2. Pendekatan terstruktur (Structured Approach)
Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknik-teknik yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur telah banyak yang diperkenalkan baik dalam bukubuku, maupun oleh perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem. Metodologi ini memperkenalkan penggunaan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem yang terstruktur. Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru. Teknik perakitan di pabrik-pabrik dan perancangan sirkuit untuk alat-alat elektronik adalah dua contoh baru konsep ini yang banyak digunakan di industri-industri. Konsep ini memang relatif masih baru digunakan dalam mengembangkan sistem informasi untuk dihasilkan produk sistem yang memuaskan pemakainya. Melalui pendekatan terstruktur, permasalahan-permasalahan yang kompleks dalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari sistem akan mudah untuk dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat pada waktunya, sesuai dengan anggaran biayanya, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan). Keuntungan pendekatan terstruktur : Mengurangi kerumitan masalah (reduction of complexity), konsep mengarah pada sistem yang ideal (focus on ideal), Standarisasi (standardization), Orientasi ke masa datang (future orientation), Mengurangi ketergantungan pada disainer (less reliance on artistry).
3. Dari Bawah Ke Atas (Bottom-up Approach)
Pendekatan ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari pendekatan klasik. Pendekatan dari bawah ke atas bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.
4. Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach)
Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach) dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedurprosedur operasi dan kontrol. Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri pendekatan terstruktur. Pendekatan atas-turun bila digunakan pada tahap analis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu, kemudian data yang perlu diolah didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
Metodologi adalah kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan, postulat-postulat yang digunakan oleh suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya. Metode adalah suatu cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi Pengembangan sistem berarti metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat (kerangka pemikiran) yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi. Urut-urutan prosedur untuk pemecahan masalah dikenal dengan istilah Algoritma Metodologi pengembangan sistem adalah metode-metode, prosedurprosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat (dalil) yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi.
Klasifikasi dari metodologi :
• Functional decomposition methodologies
Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami, dirancang dan ditetapkan. Yang termasuk dalam kelompok metodologi ini adalah :
- HIPO (Hierarchy plus Input Process Output)
- Stepwise Refinement (SR) atau Iterative Stepwise Refinement (ISR)
- Information Hiding
• Data Oriented Methodologies
Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses. Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :
1. Data flow oriented methodologies, sistem secara logika dapat digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar fungsinya di dalam modul-modul di sistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :SADT (Structured Analysis and Design Techniques),Composite Design, SSAD (Structured System Analysis and Design)
2. Data Structured oriented methodologies
Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di system yang termasuk dalam metodologi ini adalah : JSD (Jackson’s System Development),W/O (Warnier/Orr)
Beberapa alat berbentuk grafik yang sifatnya umum, yaitu dapat digunakan disemua metodologi yang ada. Alat-alat ini berupa suatu bagan, diantaranya :
1. Bagan untuk menggambarkan aktivitas (activity charting) :
a. Bagan alir sistem (System Flowchart)
b. Bagan alir program (Program Flowchart)
- Bagan alir logika program (Program logic Flowchart)
- Bagan alir program komputer (Detailed computer program Flowchart)
c. Bagan alir kerta kerja (Paperwork Flowchart) atau disebut juga Bagan alir informasi
d. Bagan alir hubungan database (Database relationship Flowchart)
e. Bagan alir proses (Process Flowchart)
f. Gant chart
2. Bagan untuk menggambarkan tata letak (Layout charting)
3. Bagan untuk menggmbarkan hubungan personil (Personal relationship charting) :
a. Bagan distribusi kerja (Working distribution chart)
b. Bagan organisasi (Organization chart)
Teknik yang digunakan untuk pengembangan sistem diantaranya :
1. Teknik manajemen proyek, yaitu CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program
Evaluation and Review Technique). Teknik ini digunakan untuk penjadwalan proyek
2. Teknik untuk menemukan fakta (Fact finding technique), yaitu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta dalam kegiatan mempelajari sistem yang ada. Teknik ini diantaranya adalah; wawancara, persiapan ynag dilakukan, buat janji pertemuan, memastikan orang yang akan diwawancarai, pokok permasalahan, pokok permasalahan, observasi, daftar pertanyaan, pengumpulan sampel
3. Teknik analisis biaya/manfaat (Cost Effectiveness Analysis atau Cost Benefit Analysis) adalah suatu teknik yang digunakan untuk menghitung biaya yang berhubungan dengan pengembangan sistem informasi seperti: biaya pengadaan, biaya persiapan, biaya proyek dan operasi. Dan manfaat yang diterima: manfaat mengurangi biaya, mengurangi kesalahan, meningkatkan kecepatan aktivitas, meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen
4. Teknik untuk menjalankan rapat. Tujuan dari rapat dalam pengembangan sistem diantaranya: untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan ide-ide, memecahkan permasalahan, menyelesaikan konflik, menganalisis kemajuan proyek, mengumpulkan data atau fakta. Tahap pelaksanaan kegiatan: merencanakan rapat, menjalankan rapat, menindaklanjuti hasil rapat.
5. Teknik Inspeksi / Walkthrough
Proses dari analisis dan desain sistem harus diawasi. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara memverifikasi hasil dari setiap tahap pengembangan sistem. Verifikasi hasil kerja secara formal disebut dengan Inspeksi (inspection) sedangkan yang tidak formal disebut Walkthrough.
Namun sebaik apapun perencanaan pengembangan sistem tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya kegagalan akibat:
1. Kurangnya penyesuaian pengembangan sistem
2. Kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkanpemakai
3. Kurang sempurnanya evaluasi kualitas dan analisis biaya
4. Adanya kerusakan dan kesalahan rancangan
5. Penggunaan teknologi komputer dan perangkat lunak yg tidakdirencanakan dan pemasang
teknologi tidak sesuai
6. Pengembangan sistem yang tidak dapat dipelihara
7. Implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik
Proses pengembangan sistem seringkali mengambil format atau mencakup pendekatan pembuatan prototipe. Pembuatan prototipe adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja atau prototipe dari aplikasi baru dalam proses interaktif dan berulang-ulang yang bisa digunakan oleh ahli SI dan praktisi bisnis. Pembuatan prototipe membuat proses pengembangan lebih cepat dan lebih mudah, khususnya untuk proses dimana persyaratan pemakai akhir sulitdirumuskan. Pembuatan prototipe menggabungkan berbagai langkah dalam siklus pengembangan sistem dan mengubah berbagai peran pakar SI serta pemakai akhir yang lama. Suatu protipe adalah bentuk dasar atau model awal dari suatu sistem atau bagian dari suatu sistem setelah dioperasikan, prototipe ditingkatkan terus sesuai dengan kebutuhan pemakai sistem yang juga meningkat.
Prototyping adalah proses pengembangan suatu prototipe secara cepat untuk digunakan terlebih dahulu dan ditingkatkan terus sampai didapatkan sistem yang utuh. Proses membangun sistem ini yaitu dengan membuat prototip atau model awal, mencobanya, meningkatkannya dan seterusnya sampai didapatkan sistem yang lengkap disebut dengan proses iteratif (iterative process) dari pengembangan sistem. Tahapan-tahapan yang dilakukkan didalam pengembangan sistem menggunakan metode prototip adalah sebagai berikut:
1. Identifikasikan kebutuhan pemakai yang paling mendasar. Pembuatan sistem dapat mewancarai pemakai sistem tentang kebutuhan pemakai sistem yang paling minimal terlebih dahulu. Para pemakai akhir mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka dan menilai kelayakan beberapa alternatif solusi sistem informasi.
2. Membangun prototip, prototip dibangun oleh pembuat sistem dengan cepat hal ini dimungkinkan karena pembuat sistem hanya membangun bagian yang paling mendasar dulu dari keseluruhan sistem yang paling dibutuhkan terlebih dahulu oleh pemakai sistem. Hal lainnya yang memungkinkan pembuat sistem membangun prototipe dengan cepat adalah dengan menggunakan alat-alat bantu generasi terbaru seperti misalnya DBMS dan CASE.
3. Menggunakan prototip, pemakai sistem dianjurkan untuk menggunakan prototip sehingga dapat menilai kekurangan-kekurangan dari prototip sehingga dapat memberikan masukan-masukan kepada pembuat sistem.
4. Merevisi dan meningkatkan prototip, pembuat sistem memperbaiki prototip berdasarkan keinginan dari pemakai sistem atau berdasarkan pengalamannya untuk membuat sistem sejenis yang baik. Jika prototip belum lengkap maka proses iterasi diulangi lagi mulai dari tahap ketiga.
5. Jika prototipe lengkap menjadi sistem yang dikehendaki, proses iterasi dihentikan
Pembuatan protipe dapat digunakan untuk aplikasi besar dan aplikasi kecil. Umumnya, sistem bisnis besar masih perlu menggunakan pendekatan pengembangan sistem tradisional tetapi sebagian sistem tersebut sering kali dapat dibuatkan prototipenya. Prototipe aplikasi bisnis yang diperlukan oleh pemakai akhir dikembangkan secara cepat dengan menggunakan berbagai alat software pengembangan aplikasi. Kemudian sistem prototipe tersebut diperbaiki berkali-kali hingga dapat diterima. Pembuatan prototipe merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang yang menggabungkan langkah-langkah:
• Analisis /Penyelidikan. Para pemakai akhir mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka dan menilai kelayakan beberapa alternatif solusi sistem informasi.
• Analisis/Desain. Para pemakai akhir dan atau pakar SI menggunakan alat pengembangan aplikasi untuk secara interaktif mendesain dan menguji prototipe berbagai komponen sistem informasi yang memenuhi kebutuhan para pemakai akhir. Pada tahap ini masuk dalam siklus pembuatan prototipe.
• Desain/Implementasi. Prototipe sistem bisnis diuji, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga para pemakai akhir dapat menerimanya. Pada tahap ini masuk dalam siklus pemeliharaan.
• Implementasi/Pemeliharaan. Sistem bisnis yang diterima dapat dimodifikasi dengan mudah karena sebagian besar dokumentasi sistem disimpan dalam disk.
Daya tarik prototipe adalah komunikasi antar analis sistem dengan pemakai membaik, analis dapat bekerja dengan baik dalam menentukan kebutuhan pemakai, pemakai berperan aktif dalam pengembangan sistem, lebih efisien dan menghemat biaya pengembangan, penerapan lebih mudah, memberikan hasil yang akurat daripada perkiraan sebelumnya, pemakai dapat merasa puas. Pertama, Pemakai dapat mengenal melalui komputer dengan melakukan prototipe (dengan analisis yang sudah ada), Pemakai belajar mengenai komputer dan aplikasi yang akan dibuatkan untuknya. Kedua, Pemakai terlibat langsung dari awal dan memotivasi semangat untuk mendukung analisis selama proyek berlangsung. Sedangkan potensi kegagalan prototipe yaitu: bersifat tergesa-gesa, berharap sesuatu yang tidak realistis dari sistem operasionalnya, User interface tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik. Penerapan yang berprospek baik untuk prototyping pada penerapan yang berciri sebagai berikut: Risiko tinggi artinya masalah tidak terstruktur dengan baik terdapat perubahan yang tinggi dari waktu ke waktu dan persyaratan tidak menentu. Interaksi pemakai penting yaitu sistem menyediakan dialog yang on-line antara pemakai dan komputer mikro atau terminal. Jumlah pemakai banyak adanya kesepakatan mengenai rincian rancangan sukar untuk dicapai tanpa pengalaman langsung. Penyelesaian yang cepat diperlukan, perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek, sistem yang inovatif, perilaku pemakai yang sukar ditebak.
End User Computing (EUC) adalah pengembangan, penggunaan, dan pengendalian aktif atas sistem informasi berbasis computer oleh para pemakai, dengan kata lain EUC adalah orang yang menggunakan TI untuk memenuhi kebutuhan informasinya sendiri daripada bergantung pada ahli-ahli sistem. Para pemakai akhir dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu:
1. Pemakai Akhir tingkat menu (menu- level end– users)Yaitu pemakai akhir yang tidak mapu menciptakan perangkat lunak sendiri tetapi dapat berkomunikasi dengan perangkat lunak jadi dengan menggunakan menu yang ditampilkan oleh perangkat lunak berbasis Windows dan Mac.
2. Pemakai akhir tingkat perintah (command level end-users). Pemakai akhir memiliki kemampuan menggunakan perangkat lunak jadi untuk memilih menu dan menggunakan bahasa perintah dari perangkat lunak untuk melaksanakan operasi aritmatika dan logika pada data.
3. Pemakai akhir tingkat programmer (end-user programmer). Pemakai akhir dapat menggunakan bahasa-bahasa pemrograman seperti BASIC atau C++ dan mengembangkan program-program sesuai kebutuhan.
4. Personil pendukung fungsional. Yaitu spesialis informasi dalam arti sesungguhnya tetapi mereka berdidikasi pada area pemakai tertentu dan melapor pada manajer fungsional mereka.
Manfaat dari End User Computing (EUC): Kreasi, Pengendalian, dan Implementasi oleh pemakai,Sistem yang memenuhi kebutuhan pemakai, Sistem yang memenuhi kebutuhan pemakai, Ketepatan waktu, Membebaskan sumber daya system, Kefleksibilitasan dan kemudahan penggunaan, EUC menyeimbangkan kemampuan pengembang dengan tantangan sistem EUC menghilangkan atau mengurangi kesenjangan komunikasi antara pemakai dan spesialis informasi.
Resiko dari EUC: kesalahan logika dan pengembangan, pengujian aplikasi yang tidak memadai, sistem yang tidak efisien, sistem yang dikendalikan dan didokumentasikan dengan kurang baik, ketidaksesuaian system, duplikasi sistem dan data serta pemborosan sumber daya, peningkatan biaya.
Pada awalnya adalah berusaha untuk mencari tau mengapa perlu adanya pengembangan sistem yaitu dengan mengetahui indikatornya; adanya keluhan pelanggan, pengiriman barang yang sering tertunda, pembayaran gaji yang terlambat, laporan yang tidak tepat waktu, Isi laporan yang sering salah, tanggung jawab yang tidak jelas, waktu kerja yang berlebihan, ketidakberesan kas, produktivitas tenaga kerja yang rendah, banyaknya pekerja yang menganggur, kegiatan yang tumpang tindih, tanggapan yang lambat terhadap pelanggan, kehilangan kesempatan kompetisi pasar.
Dengan pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah menggunakan orientasi sistem untuk merumuskan masalah dan peluang dan mengembangkan solusi. Menganilis dahulu masalah dan menformulasikan solusi selain itu dengan melibatkan aktivitas seperti:
1. Kenali dan rumuskan masalah atau peluang dengan menggunakan pemikiran sistem
2. Kembangkan dan evaluasi alternatif solusi sistem
3. Pilih solusi sistem yang memenuhi persyaratan
4. Desain solusi sistem yang dipilih
5. Implementasikan dan evaluasi kesuksesan sistem yang telah didesain
Menggunakan pendekatan sistem untuk mengembangkan solusi sistem informsi dapat dipandang sebagai proses multilangkah yangdisebut siklus pengembangan sistem informasi yang mencakup langkah: investigasi, analisis, desain, implementasi, dan pemeliharaan.
Dimulai dengan mengetahui permasalahan yang terjadi yang dapat berupa: ketidakberesan sistem yang lama, pertumbuhan organisasi, membutuhkan kecepatan dalam informasi atau efisiensi waktu, ataupun karena adanya instruksi dari pimpinan ataupun peraturan pemerintah. Setelah diketahui permasalahannya maka langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pengembangan sistem yaitu sistem yang dikembangkan untuk manajemen, pengembangan sistem sebagai investasi modal yang besar, sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik, tahapan kerja dan tugas-tugas yang baru dilakukan dalam proses pengembangan sistem, proses pengembangan sistem tidak harus urut, dokumentasi harus ada untuk pedoman pengembangan sistem.
Apabila dalam operasi sistem yang sudah dikembangkan masih timbul permasalahan maka perlu dikembangkan kembali suatu sistem untuk mengatasinya. Siklus ini disebut dengan Siklus Hidup suatu Sistem. Siklus Hidup Pengembangan Sistem dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh profesional dan pemakai sistem informasi untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem informasi. Siklus hidup pengembangan sistem informasi saat ini terbagi atas enam fase, yaitu :
1. Fase perencanaan sistem. Dalam fase ini dibentuk struktur kerja strategis yang luas, pandangan sistem informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi, proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan, sumber daya baru direncanakan untuk, dan dana disediakan untuk mendukung pengembangan sistem.
2. Fase analisis sistem. Dalam fase ini dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal balik yang terkait dalam pengembangan sistem, definisi masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala sistem, ditambah identifikasi biaya, keuntungan. Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan kebutuhan pemakai. Pada akhir fase ini, laporan analisis sistem disiapkan, bila laporan ini disetujui, tim proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara umum. Namun apabila tidak disetujui tim proyek sistem harus menjalankan analisis tambahan sampai semua setuju
3. Fase perancangan sistem secara umum/konseptual. Dalam fase ini dibentuk alternatif perancangan konseptual untuk pandangan pemakai. Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai. Alternatif perancangan konseptual memungkinkan manajer dan pemakai untuk memilih rancangan terbaik yang cocok untuk kebutuhan mereka. Pada fase ini analis sistem analis sistem mulai merancang proses dengan mengidentifikasikan laporan-laporan dan output yang akan dihasilkan oleh sistem yang diusulkan. Data masing-masing laporan ditentukan. Biasanya, perancang sistem membuat sketsa form atau tampilan yang mereka harapkan bila sistem telah selesai dibentuk. Perancangan sistem berarti untuk menerangkan secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang. Perancangan sistem ini juga menerangkan data yang akan dimasukkan, dihitung atau disimpan.
4. Fase evaluasi dan seleksi sistem. Akhir fase perancangan sistem menyediakan point utama untuk keputusan investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek sistem dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi sistem. Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase perancangan sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua altenatif akan dibuang. Biasanya, beberapa alternatif harus terbukti dapat dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi dipilih untuk pekerjaan akhir. Bila sudah terpilih alternatifnya maka akan dibuatkan rekomendasi untuk sistem.
5. Fase perancangan sistem secara detail/fungsional. Pada fase ini menyediakan spesifikasi untuk perancangan sesuai konseptual. Pada fase ini semua semua komponen dirancang dan dijelaskan secara detail. Perencanaan output (layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu dan laporan-laporan yang dicetak. Semua output direview dan disetujui oleh pemakai dan didokumentasikan. Pada akhir fase ini laporan rancangan sistem secara detail dihasilkan.
6. Fase implementasi sistem dan pemeliharaan sistem. Pada fase ini sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi. Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru. Laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan penjadwalan proyek dan teknik manajemen.
Terdapat beberapa pengembangan sistem yaitu pendekatan Klasik, Pendekatan Terstruktur, Pendekatan Dari Bawah Ke Atas, Pendekatan Dari Atas Ke Bawah.
1. Pendekatan Klasik (classical approach) disebut juga dengan Pendekatan Tradisional (traditional approach) atau Pendekatan Konvensional (conventional approach). Metodologi Pendekatan Klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan pada System Life Cycle. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan akan berhasil bila mengikuti tahapan pada System Life Cycle. Permasalahan-permasalahan yang dapat timbul pada Pendekatan Klasik adalah sebagai berikut, Pengembangan perangkat lunak akan menjadi sulit. Pendekatan klasik kurang memberikan alat-alat dan teknik-teknik di dalam mengembangkan sistem dan sebagai akibatnya proses pengembangan perangkat lunak menjadi tidak terarah dan sulit untuk dikerjakan oleh pemrogram. Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table). diagram IPO, bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut. Biaya perawatan atau pemeliharaan sistem akan menjadi mahal Mahalnya biaya perawatan pada pendekatan sistem klasik disebabkan karena dokumentasi sistem yang dikembangkan kurang lengkap dan kurang terstruktur. Dokumentasi ini merupakan hasil dari alat-alat dan teknik -teknik yang digunakan. Karena pendekatan klasik kurang didukung oleh alat-alat dan teknik-teknik, maka dokumentasi menjadi tidak lengkap dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang jelas, sehingga pada waktu pemeliharaan sistem menjadi kesulitan. Kemungkinan kesalahan sistem besar. Pendekatan klasik tidak menyediakan kepada analis sistem cara untuk melakukan pengetesan sistem, sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan sistem akan menjadi lebih besar. Keberhasilan sistem kurang terjamin. Penekanan dari pendekatan klasik adalah kerja dari personil-personil pengembang sistem, bukan pada pemakai sistem, padahal sekarang sudah disadari bahwa dukungan dan pemahaman dari pemakai sistem terhadap sistem yang sedang dikembangkan merupakan hal yang vital untuk keberhasilan proyek pengembangan sistem pada akhirnya. Mulai awal tahun 1970 muncul suatu pendekatan baru disebut dengan Pendekatan Terstruktur. Pendekatan ini pada dasarnya mencoba menyediakan kepada analis sistem dengan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide dari system life cycle.
2. Pendekatan terstruktur (Structured Approach)
Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknik-teknik yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur telah banyak yang diperkenalkan baik dalam bukubuku, maupun oleh perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem. Metodologi ini memperkenalkan penggunaan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem yang terstruktur. Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru. Teknik perakitan di pabrik-pabrik dan perancangan sirkuit untuk alat-alat elektronik adalah dua contoh baru konsep ini yang banyak digunakan di industri-industri. Konsep ini memang relatif masih baru digunakan dalam mengembangkan sistem informasi untuk dihasilkan produk sistem yang memuaskan pemakainya. Melalui pendekatan terstruktur, permasalahan-permasalahan yang kompleks dalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari sistem akan mudah untuk dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat pada waktunya, sesuai dengan anggaran biayanya, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan). Keuntungan pendekatan terstruktur : Mengurangi kerumitan masalah (reduction of complexity), konsep mengarah pada sistem yang ideal (focus on ideal), Standarisasi (standardization), Orientasi ke masa datang (future orientation), Mengurangi ketergantungan pada disainer (less reliance on artistry).
3. Dari Bawah Ke Atas (Bottom-up Approach)
Pendekatan ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari pendekatan klasik. Pendekatan dari bawah ke atas bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.
4. Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach)
Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach) dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedurprosedur operasi dan kontrol. Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri pendekatan terstruktur. Pendekatan atas-turun bila digunakan pada tahap analis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu, kemudian data yang perlu diolah didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
Metodologi adalah kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan, postulat-postulat yang digunakan oleh suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya. Metode adalah suatu cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi Pengembangan sistem berarti metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat (kerangka pemikiran) yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi. Urut-urutan prosedur untuk pemecahan masalah dikenal dengan istilah Algoritma Metodologi pengembangan sistem adalah metode-metode, prosedurprosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat (dalil) yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi.
Klasifikasi dari metodologi :
• Functional decomposition methodologies
Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami, dirancang dan ditetapkan. Yang termasuk dalam kelompok metodologi ini adalah :
- HIPO (Hierarchy plus Input Process Output)
- Stepwise Refinement (SR) atau Iterative Stepwise Refinement (ISR)
- Information Hiding
• Data Oriented Methodologies
Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses. Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :
1. Data flow oriented methodologies, sistem secara logika dapat digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar fungsinya di dalam modul-modul di sistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :SADT (Structured Analysis and Design Techniques),Composite Design, SSAD (Structured System Analysis and Design)
2. Data Structured oriented methodologies
Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di system yang termasuk dalam metodologi ini adalah : JSD (Jackson’s System Development),W/O (Warnier/Orr)
Beberapa alat berbentuk grafik yang sifatnya umum, yaitu dapat digunakan disemua metodologi yang ada. Alat-alat ini berupa suatu bagan, diantaranya :
1. Bagan untuk menggambarkan aktivitas (activity charting) :
a. Bagan alir sistem (System Flowchart)
b. Bagan alir program (Program Flowchart)
- Bagan alir logika program (Program logic Flowchart)
- Bagan alir program komputer (Detailed computer program Flowchart)
c. Bagan alir kerta kerja (Paperwork Flowchart) atau disebut juga Bagan alir informasi
d. Bagan alir hubungan database (Database relationship Flowchart)
e. Bagan alir proses (Process Flowchart)
f. Gant chart
2. Bagan untuk menggambarkan tata letak (Layout charting)
3. Bagan untuk menggmbarkan hubungan personil (Personal relationship charting) :
a. Bagan distribusi kerja (Working distribution chart)
b. Bagan organisasi (Organization chart)
Teknik yang digunakan untuk pengembangan sistem diantaranya :
1. Teknik manajemen proyek, yaitu CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program
Evaluation and Review Technique). Teknik ini digunakan untuk penjadwalan proyek
2. Teknik untuk menemukan fakta (Fact finding technique), yaitu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta dalam kegiatan mempelajari sistem yang ada. Teknik ini diantaranya adalah; wawancara, persiapan ynag dilakukan, buat janji pertemuan, memastikan orang yang akan diwawancarai, pokok permasalahan, pokok permasalahan, observasi, daftar pertanyaan, pengumpulan sampel
3. Teknik analisis biaya/manfaat (Cost Effectiveness Analysis atau Cost Benefit Analysis) adalah suatu teknik yang digunakan untuk menghitung biaya yang berhubungan dengan pengembangan sistem informasi seperti: biaya pengadaan, biaya persiapan, biaya proyek dan operasi. Dan manfaat yang diterima: manfaat mengurangi biaya, mengurangi kesalahan, meningkatkan kecepatan aktivitas, meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen
4. Teknik untuk menjalankan rapat. Tujuan dari rapat dalam pengembangan sistem diantaranya: untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan ide-ide, memecahkan permasalahan, menyelesaikan konflik, menganalisis kemajuan proyek, mengumpulkan data atau fakta. Tahap pelaksanaan kegiatan: merencanakan rapat, menjalankan rapat, menindaklanjuti hasil rapat.
5. Teknik Inspeksi / Walkthrough
Proses dari analisis dan desain sistem harus diawasi. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara memverifikasi hasil dari setiap tahap pengembangan sistem. Verifikasi hasil kerja secara formal disebut dengan Inspeksi (inspection) sedangkan yang tidak formal disebut Walkthrough.
Namun sebaik apapun perencanaan pengembangan sistem tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya kegagalan akibat:
1. Kurangnya penyesuaian pengembangan sistem
2. Kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkanpemakai
3. Kurang sempurnanya evaluasi kualitas dan analisis biaya
4. Adanya kerusakan dan kesalahan rancangan
5. Penggunaan teknologi komputer dan perangkat lunak yg tidakdirencanakan dan pemasang
teknologi tidak sesuai
6. Pengembangan sistem yang tidak dapat dipelihara
7. Implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik
Proses pengembangan sistem seringkali mengambil format atau mencakup pendekatan pembuatan prototipe. Pembuatan prototipe adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja atau prototipe dari aplikasi baru dalam proses interaktif dan berulang-ulang yang bisa digunakan oleh ahli SI dan praktisi bisnis. Pembuatan prototipe membuat proses pengembangan lebih cepat dan lebih mudah, khususnya untuk proses dimana persyaratan pemakai akhir sulitdirumuskan. Pembuatan prototipe menggabungkan berbagai langkah dalam siklus pengembangan sistem dan mengubah berbagai peran pakar SI serta pemakai akhir yang lama. Suatu protipe adalah bentuk dasar atau model awal dari suatu sistem atau bagian dari suatu sistem setelah dioperasikan, prototipe ditingkatkan terus sesuai dengan kebutuhan pemakai sistem yang juga meningkat.
Prototyping adalah proses pengembangan suatu prototipe secara cepat untuk digunakan terlebih dahulu dan ditingkatkan terus sampai didapatkan sistem yang utuh. Proses membangun sistem ini yaitu dengan membuat prototip atau model awal, mencobanya, meningkatkannya dan seterusnya sampai didapatkan sistem yang lengkap disebut dengan proses iteratif (iterative process) dari pengembangan sistem. Tahapan-tahapan yang dilakukkan didalam pengembangan sistem menggunakan metode prototip adalah sebagai berikut:
1. Identifikasikan kebutuhan pemakai yang paling mendasar. Pembuatan sistem dapat mewancarai pemakai sistem tentang kebutuhan pemakai sistem yang paling minimal terlebih dahulu. Para pemakai akhir mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka dan menilai kelayakan beberapa alternatif solusi sistem informasi.
2. Membangun prototip, prototip dibangun oleh pembuat sistem dengan cepat hal ini dimungkinkan karena pembuat sistem hanya membangun bagian yang paling mendasar dulu dari keseluruhan sistem yang paling dibutuhkan terlebih dahulu oleh pemakai sistem. Hal lainnya yang memungkinkan pembuat sistem membangun prototipe dengan cepat adalah dengan menggunakan alat-alat bantu generasi terbaru seperti misalnya DBMS dan CASE.
3. Menggunakan prototip, pemakai sistem dianjurkan untuk menggunakan prototip sehingga dapat menilai kekurangan-kekurangan dari prototip sehingga dapat memberikan masukan-masukan kepada pembuat sistem.
4. Merevisi dan meningkatkan prototip, pembuat sistem memperbaiki prototip berdasarkan keinginan dari pemakai sistem atau berdasarkan pengalamannya untuk membuat sistem sejenis yang baik. Jika prototip belum lengkap maka proses iterasi diulangi lagi mulai dari tahap ketiga.
5. Jika prototipe lengkap menjadi sistem yang dikehendaki, proses iterasi dihentikan
Pembuatan protipe dapat digunakan untuk aplikasi besar dan aplikasi kecil. Umumnya, sistem bisnis besar masih perlu menggunakan pendekatan pengembangan sistem tradisional tetapi sebagian sistem tersebut sering kali dapat dibuatkan prototipenya. Prototipe aplikasi bisnis yang diperlukan oleh pemakai akhir dikembangkan secara cepat dengan menggunakan berbagai alat software pengembangan aplikasi. Kemudian sistem prototipe tersebut diperbaiki berkali-kali hingga dapat diterima. Pembuatan prototipe merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang yang menggabungkan langkah-langkah:
• Analisis /Penyelidikan. Para pemakai akhir mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka dan menilai kelayakan beberapa alternatif solusi sistem informasi.
• Analisis/Desain. Para pemakai akhir dan atau pakar SI menggunakan alat pengembangan aplikasi untuk secara interaktif mendesain dan menguji prototipe berbagai komponen sistem informasi yang memenuhi kebutuhan para pemakai akhir. Pada tahap ini masuk dalam siklus pembuatan prototipe.
• Desain/Implementasi. Prototipe sistem bisnis diuji, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga para pemakai akhir dapat menerimanya. Pada tahap ini masuk dalam siklus pemeliharaan.
• Implementasi/Pemeliharaan. Sistem bisnis yang diterima dapat dimodifikasi dengan mudah karena sebagian besar dokumentasi sistem disimpan dalam disk.
Daya tarik prototipe adalah komunikasi antar analis sistem dengan pemakai membaik, analis dapat bekerja dengan baik dalam menentukan kebutuhan pemakai, pemakai berperan aktif dalam pengembangan sistem, lebih efisien dan menghemat biaya pengembangan, penerapan lebih mudah, memberikan hasil yang akurat daripada perkiraan sebelumnya, pemakai dapat merasa puas. Pertama, Pemakai dapat mengenal melalui komputer dengan melakukan prototipe (dengan analisis yang sudah ada), Pemakai belajar mengenai komputer dan aplikasi yang akan dibuatkan untuknya. Kedua, Pemakai terlibat langsung dari awal dan memotivasi semangat untuk mendukung analisis selama proyek berlangsung. Sedangkan potensi kegagalan prototipe yaitu: bersifat tergesa-gesa, berharap sesuatu yang tidak realistis dari sistem operasionalnya, User interface tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik. Penerapan yang berprospek baik untuk prototyping pada penerapan yang berciri sebagai berikut: Risiko tinggi artinya masalah tidak terstruktur dengan baik terdapat perubahan yang tinggi dari waktu ke waktu dan persyaratan tidak menentu. Interaksi pemakai penting yaitu sistem menyediakan dialog yang on-line antara pemakai dan komputer mikro atau terminal. Jumlah pemakai banyak adanya kesepakatan mengenai rincian rancangan sukar untuk dicapai tanpa pengalaman langsung. Penyelesaian yang cepat diperlukan, perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek, sistem yang inovatif, perilaku pemakai yang sukar ditebak.
End User Computing (EUC) adalah pengembangan, penggunaan, dan pengendalian aktif atas sistem informasi berbasis computer oleh para pemakai, dengan kata lain EUC adalah orang yang menggunakan TI untuk memenuhi kebutuhan informasinya sendiri daripada bergantung pada ahli-ahli sistem. Para pemakai akhir dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu:
1. Pemakai Akhir tingkat menu (menu- level end– users)Yaitu pemakai akhir yang tidak mapu menciptakan perangkat lunak sendiri tetapi dapat berkomunikasi dengan perangkat lunak jadi dengan menggunakan menu yang ditampilkan oleh perangkat lunak berbasis Windows dan Mac.
2. Pemakai akhir tingkat perintah (command level end-users). Pemakai akhir memiliki kemampuan menggunakan perangkat lunak jadi untuk memilih menu dan menggunakan bahasa perintah dari perangkat lunak untuk melaksanakan operasi aritmatika dan logika pada data.
3. Pemakai akhir tingkat programmer (end-user programmer). Pemakai akhir dapat menggunakan bahasa-bahasa pemrograman seperti BASIC atau C++ dan mengembangkan program-program sesuai kebutuhan.
4. Personil pendukung fungsional. Yaitu spesialis informasi dalam arti sesungguhnya tetapi mereka berdidikasi pada area pemakai tertentu dan melapor pada manajer fungsional mereka.
Manfaat dari End User Computing (EUC): Kreasi, Pengendalian, dan Implementasi oleh pemakai,Sistem yang memenuhi kebutuhan pemakai, Sistem yang memenuhi kebutuhan pemakai, Ketepatan waktu, Membebaskan sumber daya system, Kefleksibilitasan dan kemudahan penggunaan, EUC menyeimbangkan kemampuan pengembang dengan tantangan sistem EUC menghilangkan atau mengurangi kesenjangan komunikasi antara pemakai dan spesialis informasi.
Resiko dari EUC: kesalahan logika dan pengembangan, pengujian aplikasi yang tidak memadai, sistem yang tidak efisien, sistem yang dikendalikan dan didokumentasikan dengan kurang baik, ketidaksesuaian system, duplikasi sistem dan data serta pemborosan sumber daya, peningkatan biaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar